Loading
Oleh: Abu Naam Rasyid
Nusa Pictures Indonesia
Gambar sembilan Walisongo yang selama puluhan tahun menghiasi dinding masjid, pesantren, rumah masyarakat, hingga berbagai buku sejarah Islam Nusantara telah menjadi bagian dari ingatan visual masyarakat Indonesia.
Namun, ada pertanyaan mendasar yang belum banyak mendapat perhatian: sejak kapan wajah para Walisongo mulai dilukis, siapa pelukisnya, dan dari mana sumber gambaran wajah tersebut diperoleh?
Pertanyaan ini penting karena Walisongo hidup beberapa abad sebelum teknologi fotografi ditemukan. Dengan demikian, gambar wajah mereka yang dikenal masyarakat sekarang perlu ditelusuri sumber visual, riwayat pembuatan, serta sejarah penyebarannya.
Penelitian ini mencoba memetakan sejumlah petunjuk, mulai dari eksperimen fotografi Joseph Nicéphore Niépce pada 1816, klaim lukisan Walisongo tahun 1871, ilustrasi dalam manuskrip Leiden tahun 1887, hingga dokumentasi lukisan Sunan Kalijaga pada 1978.
Untuk memahami persoalan foto Walisongo, kita perlu terlebih dahulu membedakan sejarah penemuan fotografi dunia dengan sejarah masuknya fotografi ke Nusantara.
Salah satu tokoh penting dalam sejarah fotografi adalah Joseph Nicéphore Niépce, seorang penemu asal Prancis.
Pada 1816, Niépce mulai melakukan eksperimen menangkap gambar menggunakan kamera obscura dan bahan peka cahaya. Ia berhasil menghasilkan gambar pada kertas yang dilapisi garam perak, tetapi hasilnya masih berupa gambar negatif dan belum dapat dipertahankan secara permanen.
Perkembangan berikutnya terjadi melalui penelitian menggunakan bahan bitumen Yudea. Pada 1824, Niépce berhasil menghasilkan gambar yang dapat dipertahankan melalui proses yang kemudian dikenal sebagai heliografi.
Sementara itu, View from the Window at Le Gras, yang dibuat sekitar 1826–1827, dikenal sebagai foto kamera tertua yang masih bertahan hingga sekarang.
Dengan demikian, kronologi awal fotografi dapat diringkas sebagai berikut:
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1816 | Niépce melakukan eksperimen fotografi menggunakan bahan peka cahaya |
| 1824 | Keberhasilan menghasilkan gambar permanen melalui proses heliografi |
| 1826–1827 | Pembuatan View from the Window at Le Gras, foto kamera tertua yang masih bertahan |
| 1839 | Proses daguerreotype diperkenalkan kepada publik dan fotografi berkembang lebih luas |
Perlu dicatat bahwa Niépce bukan satu-satunya tokoh dalam sejarah fotografi. Perkembangan teknologi ini juga melibatkan sejumlah penemu lain, termasuk Louis Daguerre dan William Henry Fox Talbot.
Fotografi mulai diperkenalkan di Hindia Belanda pada dekade 1840-an.
Salah satu tokoh yang berperan dalam periode awal tersebut adalah Jurriaan Munnich, seorang petugas medis yang mendapat tugas dari pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan dokumentasi fotografis di wilayah Hindia Belanda.
Tahun 1841 sering disebut sebagai tahun kedatangan fotografi ke Hindia Belanda, ketika Munnich menjalankan perjalanan dokumentasi di Jawa Tengah.
Kehadiran fotografi kemudian berkembang melalui kegiatan dokumentasi peninggalan arkeologi, pemandangan alam, masyarakat, bangunan, serta berbagai kepentingan pemerintahan kolonial.
Perkembangan ini berlangsung jauh setelah masa kehidupan Walisongo.
Artinya, meskipun fotografi telah dikenal di Eropa sejak awal abad ke-19, teknologi tersebut baru hadir di Hindia Belanda pada abad ke-19.
Salah satu informasi yang menarik adalah pemberitaan mengenai lukisan sembilan Walisongo yang dikaitkan dengan seorang pelukis bernama Raden Sayyid.
Lukisan tersebut dikabarkan menggambarkan sembilan Walisongo sedang menunggang kuda di depan Masjid Agung Demak. Ukurannya disebut mencapai 360 × 230 sentimeter.
Tahun 1871 kemudian disebut sebagai tahun pembuatan karya tersebut.
Apabila informasi ini benar, lukisan tersebut menjadi petunjuk penting mengenai sejarah visualisasi Walisongo pada abad ke-19.
Namun, informasi mengenai tahun, identitas pelukis, dan asal-usul lukisan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.
Beberapa hal yang perlu diperiksa antara lain:
Keberadaan fisik lukisan asli.
Tanda tangan atau identitas pembuat.
Riwayat kepemilikan dan perpindahan koleksi.
Catatan pemeliharaan atau pemugaran.
Arsip sezaman yang dapat mengonfirmasi keberadaan karya tersebut.
Karena itu, tahun 1871 untuk sementara harus diperlakukan sebagai klaim historis yang menarik untuk diteliti, bukan sebagai tanggal pasti kemunculan lukisan Walisongo.
Petunjuk penting lainnya ditemukan dalam koleksi manuskrip Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
Naskah Prang Demak dengan nomor katalog Cod. Or. 23.742 selesai ditulis pada 4 Januari 1887. Naskah tersebut terdiri atas 161 folio dan memuat sejumlah ilustrasi berwarna.
Pada folio 91b terdapat ilustrasi yang oleh E.P. Wieringa diidentifikasi sebagai Sunan Kalijaga sedang mengajar Pamanahan.
Dalam ilustrasi tersebut, Sunan Kalijaga digambarkan duduk di kursi, sedangkan Pamanahan berada di bawah. Wieringa memberikan pembacaan terhadap perbedaan posisi duduk tersebut dalam konteks hierarki atau kedudukan sosial.
Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa sosok Sunan Kalijaga telah direpresentasikan secara visual dalam sebuah manuskrip Jawa setidaknya pada akhir abad ke-19.
Namun, ilustrasi tersebut bukan foto dan tidak dapat langsung dianggap sebagai gambaran wajah autentik Sunan Kalijaga.
Kita juga belum dapat memastikan apakah ilustrasi itu bersumber dari tradisi visual yang lebih tua, ingatan keluarga, atau interpretasi pembuat manuskrip pada masa tersebut.
Dengan demikian, manuskrip Prang Demak merupakan bukti dokumenter keberadaan representasi visual Sunan Kalijaga pada 1887, bukan bukti bahwa wajah yang digambarkan merupakan potret asli semasa hidupnya.
Petunjuk berikutnya ditemukan dalam majalah Selecta nomor 780, terbit pada 30 Agustus 1978.
Majalah tersebut memuat kisah pembuatan lukisan Sunan Kalijaga oleh Joko, seorang mahasiswa Akademi Seni Rupa Yogyakarta.
Menariknya, lukisan tersebut dikisahkan dibuat berdasarkan gambaran mimpi Suhadi dan R. Akhmad Mulyadi, yang dikenal sebagai juru kunci makam dan masjid Sunan Kalijaga.
Informasi ini memberikan gambaran bahwa pada dekade 1970-an sudah terdapat upaya menggambarkan sosok Sunan Kalijaga melalui pendekatan visual yang bersumber dari cerita dan pengalaman personal.
Namun, lukisan tersebut bukan bukti potret autentik Sunan Kalijaga. Ia merupakan representasi visual yang dibuat pada abad ke-20 berdasarkan sumber cerita yang disebutkan dalam dokumentasi majalah.
Catatan ini juga memperlihatkan bahwa sejarah gambar seorang wali mempunyai riwayat tersendiri, terpisah dari sejarah kehidupan tokoh yang digambarkan.
Pertanyaan ini menjadi salah satu bagian paling menarik dalam penelitian sejarah visual Walisongo.
Pada 29 Desember 2015, detikNews menerbitkan wawancara dengan sejarawan UGM, Bahaudin, mengenai gambar Walisongo yang populer di masyarakat.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa asal-usul pelukis gambar Walisongo yang beredar luas belum diketahui secara pasti. Lukisan berwarna yang populer itu diperkirakan muncul sekitar dekade 1970–1980-an.
Perkiraan tersebut perlu dibedakan dari dokumentasi lukisan Sunan Kalijaga pada 1978. Kedua informasi itu tidak membuktikan bahwa pelukisnya sama ataupun bahwa keduanya berasal dari satu sumber visual.
Beberapa pertanyaan yang masih perlu dijawab adalah:
Siapa pelukis pertama yang membuat satu set gambar sembilan Walisongo?
Apakah gambar tersebut dibuat berdasarkan manuskrip, tradisi keluarga, cerita lisan, atau imajinasi pelukis?
Apakah terdapat satu lukisan induk yang kemudian direproduksi oleh banyak penerbit?
Kapan gambar tersebut mulai diproduksi secara massal dan digunakan di masjid serta pesantren?
Apakah setiap gambar Walisongo mempunyai sumber visual tersendiri?
Tanpa jawaban atas pertanyaan tersebut, sejarah gambar Walisongo masih menyimpan ruang penelitian yang luas.
Persoalan ini perlu dijelaskan dengan membedakan foto kamera, lukisan, ilustrasi, dan reproduksi digital.
Masa kehidupan Walisongo berada beberapa abad sebelum eksperimen fotografi Niépce pada 1816. Oleh karena itu, tidak mungkin ada foto kamera yang diambil ketika mereka masih hidup.
Foto yang beredar sekarang perlu diperiksa asal-usulnya. Bisa jadi merupakan:
Foto hasil pemotretan ulang sebuah lukisan.
Reproduksi ilustrasi dalam buku atau manuskrip.
Gambar yang dibuat berdasarkan tradisi lisan.
Ilustrasi modern yang diberi efek menyerupai foto.
Hasil pengolahan atau rekonstruksi digital.
Sampai saat ini, belum ditemukan bukti fotografis autentik yang memastikan bahwa foto wajah asli salah seorang Walisongo pernah diambil ketika tokoh tersebut masih hidup.
Namun, kesimpulan tersebut tidak berarti bahwa tidak mungkin ada lukisan lama yang menggambarkan mereka. Justru lukisan, manuskrip, dan koleksi keluarga merupakan sumber yang perlu terus ditelusuri.
Berdasarkan informasi yang telah dihimpun, berikut kronologi sementara yang dapat menjadi titik awal penelitian:
| Tahun/Periode | Keterangan |
|---|---|
| Abad ke-15–16 | Masa kehidupan Walisongo |
| 1816 | Eksperimen fotografi Joseph Nicéphore Niépce |
| 1824 | Keberhasilan proses gambar permanen melalui heliografi |
| 1826–1827 | Pembuatan foto kamera tertua yang masih bertahan |
| 1839 | Perkembangan fotografi melalui pengenalan daguerreotype |
| 1841 | Fotografi mulai hadir di Hindia Belanda melalui kegiatan Jurriaan Munnich |
| 1871 | Tahun yang diklaim untuk lukisan sembilan Walisongo karya Raden Sayyid; masih perlu verifikasi |
| 1887 | Manuskrip Prang Demak selesai ditulis dan memuat ilustrasi Sunan Kalijaga pada folio 91b |
| 1970-an | Terdapat dokumentasi pembuatan lukisan Sunan Kalijaga |
| 1970–1980-an | Perkiraan kemunculan lukisan Walisongo berwarna yang populer |
| Masa kini | Gambar Walisongo beredar melalui reproduksi, poster, buku, dan media digital |
Kronologi ini belum merupakan sejarah lengkap lukisan Walisongo. Setiap informasi mempunyai tingkat pembuktian yang berbeda dan perlu ditelusuri melalui sumber primer.
Bagi penelitian sejarah Islam Nusantara, persoalan visualisasi Walisongo layak dijadikan kajian tersendiri.
DPC NAAT Kudus melalui bidang penelitian dan pelestarian silsilah dapat mengembangkan penelitian bertajuk:
“Mengungkap Sejarah Visualisasi Walisongo: Siapa yang Pertama Kali Melukis Wajah Para Wali?”
Penelitian tersebut dapat diarahkan pada beberapa sasaran:
Menelusuri manuskrip kuno yang memuat ilustrasi Sunan Kudus dan para wali lainnya.
Menginventarisasi lukisan atau gambar Walisongo yang tersimpan dalam koleksi keluarga dzuriyah.
Memeriksa keberadaan dan riwayat lukisan Raden Sayyid yang dikaitkan dengan tahun 1871.
Mengidentifikasi pelukis dan sumber visual gambar sembilan Walisongo yang populer sekarang.
Menelusuri asal-usul gambar Sunan Kudus, apakah berasal dari satu sumber visual tersendiri atau merupakan bagian dari satu rangkaian lukisan Walisongo.
Membandingkan gambar dalam manuskrip dengan lukisan yang berkembang pada abad ke-20.
Sumber primer harus menjadi perhatian utama. Benda asli, manuskrip, arsip, tanda tangan pelukis, catatan kepemilikan, dan dokumentasi sezaman akan lebih menentukan daripada sekadar pengulangan informasi dalam pemberitaan.
Sejarah visualisasi Walisongo ternyata tidak sesederhana yang selama ini dibayangkan.
Eksperimen fotografi telah dilakukan Joseph Nicéphore Niépce sejak 1816, sedangkan fotografi baru hadir di Hindia Belanda pada dekade 1840-an. Sementara itu, terdapat klaim lukisan Walisongo tahun 1871, ilustrasi Sunan Kalijaga dalam manuskrip Prang Demak tahun 1887, dokumentasi lukisan Sunan Kalijaga pada 1978, serta perkiraan kemunculan gambar Walisongo berwarna yang populer pada dekade 1970–1980-an.
Namun, setiap informasi tersebut mempunyai kedudukan pembuktian yang berbeda.
Kita harus membedakan tiga persoalan: sejarah kehidupan para wali, sejarah pembuatan gambar mereka, dan autentisitas wajah yang digambarkan.
Gambar yang sudah puluhan tahun dipajang di masjid atau pesantren tidak otomatis menjadi potret asli. Sebaliknya, ketiadaan potret autentik juga tidak mengurangi kedudukan sejarah dan ketokohan Walisongo.
Justru di sinilah pentingnya penelitian: bukan untuk menolak gambar yang telah dikenal masyarakat, melainkan untuk mengetahui siapa pembuatnya, kapan dibuat, dan dari sumber apa gambaran tersebut berasal.
Sejarah Walisongo tidak hanya perlu ditelusuri melalui nasab, manuskrip, dan peninggalan sejarah, tetapi juga melalui sejarah visual yang selama ini belum banyak dikaji.
Nicéphore Niépce House Museum, Bicentennial of Photography, penjelasan mengenai keberhasilan fotografi permanen pada 1824 dan foto tertua yang masih bertahan pada 1826–1827.
Ministère de la Culture, Prancis, Repère photographie, kronologi eksperimen Niépce sejak 1816.
Camera Museum, Joseph Nicéphore Niépce and the Invention of Photography.
Brian C. Arnold (ed.), A History of Photography in Indonesia: From the Colonial Era to the Digital Age, Amsterdam University Press, 2022.
Selecta, Nomor 780, 30 Agustus 1978, dokumentasi kisah pembuatan lukisan Sunan Kalijaga.
detikNews, “Sejarawan: Gambar Walisongo Juga Imajinatif Saja, Sama Seperti Gajah Mada”, 29 Desember 2015.
Okezone News, “Inilah Sosok yang Melukis Wajah Walisongo”, 25 Januari 2024.
Historia, “Cerita di Balik Gambar Sunan Kalijaga”.
E.P. Wieringa, “A Monument Marking the Dawn of the Muslim Era in Java: Chronicles and Chronograms on the Grand Mosque of Demak”, dalam Figurations of Time in Asia, 2012, hlm. 157–192.
Leiden University Libraries, manuskrip Prang Demak, Cod. Or. 23.742.
Catatan redaksi: Klaim tahun 1871 dan identitas Raden Sayyid masih memerlukan verifikasi benda dan arsip primer. Tahun 1816 merupakan awal eksperimen fotografi Niépce, bukan tahun ditemukannya foto permanen yang masih bertahan. Artikel ini membedakan fakta dokumenter, perkiraan, dan klaim yang masih harus diuji.