Loading
Oleh: Abu Naam Rasyid
Catatan Perjalanan Spiritual dan Sejarah Tutur
Ada kalanya perjalanan hidup membawa seseorang kembali berhadapan dengan kenangan yang telah tersimpan puluhan tahun. Bukan melalui perjalanan mencari guru atau sengaja menelusuri masa lalu, melainkan melalui peristiwa sederhana yang tidak pernah direncanakan.
Hal itulah yang penulis alami ketika hijrah dan menetap di Garung Kidul.
Di lingkungan tempat tinggal yang baru, penulis menjumpai komunitas Jamaah Asy-Syahadatain yang mengikuti ajaran Abah Umar bin Ismail dari Cirebon. Setiap Jumat, sejumlah jamaah terlihat datang untuk melaksanakan salat Jumat dengan mengenakan jubah putih dan udeng putih yang menjadi ciri khas mereka.
Pemandangan tersebut membangkitkan ingatan lama. Penulis pernah mengenal ilmu dan amaliyah Asy-Syahadatain melalui seorang guru bernama Abah Sumawi, yang juga dikenal sebagai Sumawi Semprong, sejak sekitar tahun 1987.
Pertemuan dengan komunitas tersebut seolah membuka kembali lembaran perjalanan yang telah berlangsung hampir empat dekade sebelumnya.
Sekitar tahun 1987, ketika penulis berusia kurang lebih 17 tahun, penulis mulai menerima ilmu dan amaliyah Asy-Syahadatain melalui Abah Sumawi Semprong, seorang yang berasal dari Ngelengkur, Demak.
Abah Sumawi merupakan murid Abah Umar bin Ismail dari Cirebon. Dengan demikian, melalui beliau penulis mengenal sebagian ilmu dan amaliyah yang bersumber dari lingkungan keilmuan Asy-Syahadatain.
Penulis tidak mengetahui secara terperinci bagaimana awal mula Abah Sumawi berguru kepada Abah Umar. Keterangan mengenai hubungan keguruan tersebut penulis terima dari Abah Sumawi sendiri.
Dalam beberapa kesempatan, Abah Sumawi juga menceritakan pengalaman hidupnya pada masa perjuangan melawan penjajahan. Beliau pernah menyebut dirinya sebagai seorang tukang keker. Penulis mengingat istilah tersebut sebagaimana disampaikan beliau, tetapi tidak dapat memastikan makna teknisnya secara tepat.
Selain itu, Abah Sumawi dikenal penulis sebagai sosok yang memiliki kemampuan bela diri.
Salah satu hal yang paling membekas bukanlah kemampuan fisik beliau, melainkan beberapa nasihat dan cerita yang disampaikan dalam pertemuan-pertemuan pribadi.
Ada sebuah cerita yang disampaikan Abah Sumawi dan masih diingat penulis hingga sekarang.
Suatu malam selepas salat Isya, menurut cerita beliau, Abah Umar datang berkunjung ke rumahnya di Ngelengkur, Demak. Dalam kunjungan tersebut, Abah Umar menanyakan seorang anak kecil yang sering datang ke rumah Abah Sumawi.
Abah Sumawi menjawab:
“Dialah cucuku yang awal dan yang akhir.”
Abah Umar kemudian menanggapi:
“Kok seperti Nabi Yusuf?”
Pada masa itu penulis masih berusia sekitar 17 tahun. Terus terang, penulis belum sepenuhnya memahami cerita tersebut dan bahkan sempat tidak mempercayainya.
Beberapa minggu kemudian, penulis mendapat pengalaman yang membuat cerita itu kembali teringat.
Ketika sedang mengiringi rombongan pengantin di daerah Wates, penulis melihat dua anak kecil duduk di jendela sebuah langgar. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya:
“Orang itu seperti Nabi Yusuf, ya ...”
Penulis merasa mendengar perkataan itu dengan jelas. Seketika, ingatan terhadap cerita Abah Sumawi kembali muncul.
Apakah kedua peristiwa tersebut memiliki hubungan? Penulis tidak hendak memberikan kesimpulan yang melampaui pengalaman pribadi. Kisah ini dicatat sebagai salah satu kenangan yang pernah dialami dan masih membekas dalam perjalanan hidup penulis.
Ada pula pengalaman lain yang berkaitan dengan Abah Sumawi.
Suatu ketika penulis datang ke rumah beliau bersama seorang teman. Dalam pertemuan tersebut, Abah Sumawi beberapa kali memperhatikan penulis.
Pada kesempatan berikutnya, penulis datang seorang diri dan memberanikan diri bertanya mengapa beliau terus memperhatikan dirinya.
Abah Sumawi menjelaskan bahwa beliau bukan sekadar melihat, melainkan melihat suatu tanda di antara kedua mata penulis yang menurut penglihatannya berwarna kuning keemasan. Beliau kemudian menyampaikan bahwa suatu hari penulis akan menjadi orang yang masyhur atau dikenal banyak orang.
Penulis hanya terdiam mendengar perkataan tersebut.
Dalam kenangan penulis, Abah Sumawi merupakan sosok yang memiliki kedalaman penghayatan keagamaan dan ketajaman pandangan batin. Namun, kesan tersebut merupakan penilaian pribadi seorang murid terhadap gurunya, bukan klaim yang dimaksudkan untuk membuktikan kedudukan spiritual tertentu.
Di antara ilmu dan amaliyah yang pernah diajarkan Abah Sumawi, terdapat sebuah amalan yang dikenal penulis dengan nama Ajian Pengirutan.
Pada tahun 1987, ketika menjalani hari terakhir riyadhah amalan tersebut, penulis hendak melakukan perjalanan.
Sebelum berangkat, Abah Sumawi meminta penulis melepas baju. Beliau kemudian meniup bagian punggung penulis.
Ketika ditanya, “Untuk apa, Bah?”
Beliau menjawab, “Untuk sajam.”
Dalam ingatan penulis, riyadhah tersebut berlangsung selama tujuh hari dengan puasa dan wirid. Akan tetapi, penulis tidak lagi mengingat secara lengkap tata cara, bacaan, maupun ketentuan amalan tersebut. Karena itu, penulis tidak bermaksud menuliskan rincian yang sudah tidak diingat secara pasti.
Dalam perjalanan, penulis pernah berhadapan dengan tujuh orang yang membawa senjata tajam. Mereka menghadang dan melontarkan perkataan kasar. Namun, menurut pengalaman penulis, situasi kemudian berubah hingga mereka meminta maaf dan berlutut di hadapan penulis.
Pada waktu itu penulis menghubungkan kejadian tersebut dengan Ajian Pengirutan yang baru saja diajarkan Abah Sumawi, yang menurut pemahaman penulis ketika itu memiliki tujuan menundukkan lawan.
Kisah ini merupakan kesaksian pribadi mengenai pengalaman yang pernah dialami. Penulis tidak bermaksud menjadikannya sebagai pembuktian kekuatan gaib ataupun anjuran untuk mengandalkan amalan tertentu dalam menghadapi bahaya.
Seiring perjalanan waktu, penulis juga tidak lagi menyimpan buku-buku dan catatan ilmu yang dahulu diterima dari Abah Sumawi. Sebagian besar rincian pengajaran tersebut kini hanya tersisa dalam ingatan.
Satu hal yang tetap melekat adalah penghormatan kepada seorang guru yang pernah menjadi pintu awal perjalanan keilmuan penulis.
Perjalanan keilmuan penulis tidak berhenti pada Abah Sumawi.
Pada tahun 1988, penulis mulai mengaji kepada Mbah Shobib di Menganti, Jepara. Hubungan keguruan ini berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.
Melalui pengajian kitab-kitab yang direkomendasikan Mbah Shobib, penulis menerima berbagai pengetahuan, tuntunan, dan amalan yang berkaitan dengan perjalanan tasawuf.
Bagi penulis, pengajian kitab bukan hanya kegiatan membaca dan memahami teks. Di dalamnya terdapat proses belajar, menerima penjelasan guru, serta berusaha mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.
Hubungan sebagai murid dan guru tersebut telah berlangsung sejak 1988. Namun, penerimaan baiat dan talqin thariqah baru terjadi dua puluh tahun kemudian.
Pada tahun 2008, penulis menerima baiat dan talqin Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) langsung dari Mbah Shobib.
Peristiwa tersebut berlangsung secara pribadi, seorang diri, di rumah beliau.
Nama Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah disampaikan langsung oleh Mbah Shobib ketika memberikan baiat dan talqin. Dengan demikian, penyebutan TQN dalam catatan ini bersumber dari pengalaman langsung penulis ketika menerima bimbingan beliau.
Penting untuk membedakan dua fase perjalanan tersebut: penulis mulai mengaji kepada Mbah Shobib pada 1988, sedangkan baiat dan talqin TQN diterima pada 2008.
Penulis tidak pernah menyatakan diri sebagai mursyid ataupun penerus kemursyidan Mbah Shobib. Kedudukan penulis dalam hubungan tersebut adalah seorang murid yang menerima bimbingan dan pengajaran dari gurunya.
Bagi penulis, penghormatan kepada seorang mursyid tidak harus diwujudkan melalui klaim kedudukan. Mengingat pengajaran, menjaga adab, dan berusaha mengamalkan ilmu merupakan bagian dari tanggung jawab seorang murid.
Jika ditarik ke belakang, terdapat dua sosok guru yang menempati bagian penting dalam perjalanan spiritual penulis.
Abah Sumawi Semprong memperkenalkan penulis kepada ilmu dan amaliyah Asy-Syahadatain sejak 1987. Melalui beliau, penulis mengenal jejak keilmuan Abah Umar bin Ismail dari Cirebon.
Sementara itu, Mbah Shobib menjadi guru tempat penulis mengaji sejak 1988. Melalui pengajian kitab dan bimbingan beliau, penulis menjalani proses pembelajaran tasawuf yang kemudian disertai baiat dan talqin TQN pada 2008.
Keduanya hadir pada masa yang berbeda dan memberikan pengalaman keilmuan yang tidak sama.
Penulis tidak bermaksud menyamakan kedua jalur tersebut, apalagi mencampuradukkan sanad dan kedudukan masing-masing. Catatan ini hanya berusaha merekam perjalanan seorang murid sebagaimana yang benar-benar dialami.
Puluhan tahun setelah mengenal Asy-Syahadatain melalui Abah Sumawi, penulis justru kembali berjumpa dengan komunitas jamaah tersebut setelah hijrah ke Garung Kidul.
Pertemuan itu menghadirkan kembali ingatan tentang masa muda, tentang seorang guru dari Ngelengkur, Demak, dan tentang Abah Umar dari Cirebon yang dahulu namanya dikenal melalui cerita sang guru.
Perjalanan hidup memang tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada pengalaman yang baru terasa keterkaitannya setelah waktu berlalu sangat panjang.
Namun, penulis tidak hendak menyimpulkan bahwa setiap pertemuan merupakan tanda tertentu. Cukuplah peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu, guru, dan kenangan memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup manusia.
Tulisan ini bukan catatan tentang pencapaian spiritual, bukan pula pengakuan atas kedudukan tertentu. Ini adalah upaya seorang murid untuk mengingat para guru yang pernah membimbing perjalanan hidupnya.
Dari Abah Sumawi, penulis mengenal ilmu dan amaliyah Asy-Syahadatain. Dari Mbah Shobib, penulis menjalani perjalanan mengaji dan menerima baiat serta talqin TQN. Sementara perjumpaan kembali dengan Jamaah Asy-Syahadatain di Garung Kidul membuka kembali ingatan yang telah tersimpan puluhan tahun.
Tidak semua rincian masa lalu masih dapat diingat. Tidak semua pengalaman dapat dibuktikan oleh orang lain. Karena itu, setiap cerita dalam tulisan ini ditempatkan sesuai sumbernya: ada yang merupakan pengalaman langsung, ada yang merupakan cerita guru, dan ada pula yang berupa kesan serta penafsiran pribadi.
Pada akhirnya, seorang murid tidak harus menjadi mursyid untuk menjaga warisan ilmu gurunya.
Terkadang, cukup dengan mengingat, berusaha mengamalkan, dan menceritakan kebaikan gurunya secara jujur, seorang murid telah ikut menjaga mata rantai sejarah keilmuan.
Sebab, ilmu boleh terus berkembang, zaman boleh berganti, tetapi adab seorang murid kepada gurunya semestinya tidak pernah berhenti.